Pendidikan Kita Terobsesi Lulus, Tapi Gagal Menumbuhkan

1 day ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Di ruang-ruang kelas Indonesia hari ini, pendidikan sering kali direduksi menjadi satu tujuan utama: lulus. Lulus ujian, lulus sekolah, lulus tepat waktu. Seolah-olah seluruh proses belajar yang panjang dan kompleks bisa dirangkum dalam selembar ijazah dan deretan angka di rapor. Obsesi ini bukan sekadar cara pandang yang keliru, tetapi telah menjelma menjadi masalah sistemik yang diam-diam merugikan peserta didik.

Sejak dini, siswa dibiasakan mengejar nilai, bukan makna. Mereka dilatih menghafal, mengerjakan soal, dan menuntaskan kurikulum dengan satu tujuan pragmatis: melewati ujian. Tidak heran jika banyak siswa yang “berprestasi” di sekolah justru gagap ketika berhadapan dengan persoalan nyata di luar ruang kelas. Mereka lulus secara administratif, tetapi belum tentu bertumbuh sebagai manusia yang siap menghadapi kehidupan.

Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada kelulusan melahirkan budaya instan. Proses belajar diperlakukan sebagai beban yang harus segera diselesaikan, bukan sebagai ruang eksplorasi dan pendewasaan. Dalam iklim seperti ini, kegagalan dianggap musuh. Nilai rendah menjadi stigma. Siswa yang tidak sesuai standar dicap “kurang pintar”, alih-alih dipahami sebagai individu dengan kebutuhan dan ritme belajar yang berbeda.

Padahal, dunia nyata tidak bekerja dengan sistem ujian pilihan ganda. Dunia menuntut kemampuan berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, bekerja sama, dan mengambil keputusan etis. Ironisnya, kemampuan-kemampuan tersebut justru sering terpinggirkan dalam sistem pendidikan yang sibuk mengejar target kelulusan. Kita terlalu sibuk menyiapkan siswa untuk ujian, tetapi lupa menyiapkan mereka untuk hidup.

Masalah ini tidak bisa dilepaskan dari cara negara dan institusi pendidikan mendefinisikan keberhasilan. Sekolah dinilai dari angka kelulusan, peringkat, dan capaian akademik semata. Guru dibebani target kurikulum dan administrasi yang menumpuk, sehingga waktu untuk mendampingi siswa secara manusiawi semakin menyempit. Akhirnya, relasi guru dan murid tereduksi menjadi hubungan penilai dan objek penilaian.

Dalam situasi seperti ini, pendidikan kehilangan fungsi utamanya sebagai proses pertumbuhan. Peserta didik tidak diajak mengenal dirinya sendiri, memahami minat dan potensinya, atau belajar dari kegagalan. Mereka justru diajari satu pelajaran berbahaya: bahwa nilai lebih penting daripada kejujuran, hasil lebih utama daripada proses. Tidak mengherankan jika praktik menyontek, manipulasi nilai, dan tekanan mental menjadi fenomena yang berulang.

Lebih jauh, pembentukan karakter sering kali hanya menjadi jargon. Nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, dan integritas dipajang dalam slogan sekolah, tetapi jarang dihidupkan dalam praktik sehari-hari. Ketika pendidikan terlalu fokus pada capaian akademik, aspek kemanusiaan justru menjadi korban. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh malah berubah menjadi arena kompetisi yang melelahkan.

Obsesi terhadap kelulusan juga diperkuat oleh tekanan sosial. Orang tua, sering kali dengan niat baik, ikut terjebak dalam logika yang sama: anak harus lulus cepat, harus masuk sekolah favorit, harus unggul dari yang lain. Tekanan ini menutup ruang bagi anak untuk berkembang secara alami. Setiap keterlambatan dianggap kegagalan, setiap perbedaan dipandang sebagai kekurangan.

Sudah saatnya kita berani mempertanyakan: untuk apa pendidikan jika hanya menghasilkan lulusan yang rapuh secara mental dan miskin kepekaan sosial? Kelulusan memang penting sebagai penanda tahap, tetapi menjadikannya sebagai tujuan utama adalah kesalahan fatal. Pendidikan yang sejati seharusnya meninggalkan bekal jangka panjang—kemampuan belajar sepanjang hayat, keberanian menghadapi kegagalan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang kuat.

Jika pendidikan terus dipersempit menjadi urusan lulus atau tidak lulus, kita hanya akan memproduksi generasi yang pandai mengikuti sistem, tetapi gagap ketika sistem itu tidak lagi memberi jawaban. Pendidikan bukan pabrik ijazah. Ia adalah proses memanusiakan manusia. Dan selama kita masih mengukur keberhasilan pendidikan dari seberapa cepat seseorang lulus, selama itu pula kita gagal memahami makna belajar yang sesungguhnya.

Read Entire Article