(MI/Seno)
LEDAKAN teknologi digital telah menyusup ke setiap sudut kehidupan anak-anak Indonesia, membawa kemudahan sekaligus ancaman diam-diam: krisis gaya hidup pasif. Data World Health Organization (WHO) 2024 mengungkap fakta mencengangkan: lebih dari 80% remaja global, termasuk di Asia Tenggara, gagal memenuhi target aktivitas fisik 60 menit per hari.
Di Indonesia, gejala itu diperparah temuan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang menunjukkan peningkatan prevalensi obesitas pada anak dan remaja, bersinggungan dengan budaya belajar yang kerap mengorbankan waktu rekreasi dan bermain demi tuntutan akademis semata. Dampaknya tak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga mental dan prestasi belajar. Oleh sebab itu, integrasi pendidikan dan olahraga di sekolah bukan lagi sekadar pelengkap kurikulum, melainkan juga aksi strategis yang mendesak untuk mencetak generasi yang utuh, yakni cerdas, bugar, dan berkarakter.
GERAK YANG MENCERAHKAN PIKIRAN
Klaim bahwa olahraga mengganggu konsentrasi belajar ialah mitos usang. Ilmu pengetahuan justru membuktikan sebaliknya. Dr John Ratey (2008) menyebut olahraga sebagai 'pupuk bagi otak' karena merangsang produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang menyuburkan dan memperkuat koneksi saraf otak. Artinya, aktivitas fisik secara harfiah menyuburkan tanah tempat benih-benih pengetahuan tumbuh.
Temuan itu diperkuat studi University of Illinois (2023) yang membuktikan peningkatan fungsi eksekutif, konsentrasi, dan nilai akademik siswa yang aktif. Gambaran serupa mulai terlihat di tingkat lokal. Sebuah studi pendahuluan di Yogyakarta (2023) mengindikasikan aktivitas fisik terstruktur mampu meningkatkan daya tahan belajar dan suasana hati siswa. Temuan-temuan itu mempertegas waktu di lapangan bukanlah pengurangan, melainkan investasi strategis yang langsung berkontribusi pada kecerdasan di ruang kelas.
MERANCANG SEKOLAH YANG HIDUP
Sekolah merupakan tempat paling strategis untuk menanamkan kebiasaan hidup aktif sejak dini. Langkah itu sejalan dengan praktik baik di negara maju. Pada 2010, pemerintah Finlandia menjalankan program Active School Movement yang mewajibkan aktivitas fisik ringan selama 15 menit setelah 45 menit belajar. Konsep tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk menata ulang budaya belajar di sekolah dari yang pasif dan kognitif semata, menjadi lebih dinamis dan menyenangkan. Indonesia bisa mencontoh praktik itu dengan senam pagi, permainan tradisional, atau olahraga komunitas, menyesuaikan konteks lokal.
Konsep itu sejalan dengan filosofi pendidikan nasional kita. Ki Hajar Dewantara telah lama menggagas sekolah sebagai ‘taman belajar’, sebuah ruang untuk menumbuhkan seluruh potensi anak, tak terkecuali kesehatan jasmaninya. Baginya, kebiasaan bergerak ialah fondasi bagi ketajaman budi pekerti dan keceriaan belajar. Jika Finlandia mampu mendesain ritme belajar yang manusiawi, Indonesia pun dapat menerjemahkan prinsip ‘taman’ itu dengan kearifan lokalnya.
TRINITAS PEMBENTUK GENERASI
Membangun generasi tangguh tidak boleh parsial. Pendekatan holistis menuntut integrasi tiga pilar utama: aktivitas fisik, gizi seimbang, dan pendidikan karakter. Ketiganya bagai sisi mata uang yang tak terpisahkan dan saling menguatkan.
Fisik yang prima memerlukan bahan bakar berkualitas; karena itu, sekolah perlu secara sadar memprioritaskan penyediaan makanan sehat di kantin, dengan menetapkan aturan agar seluruh jajanan yang dijual memenuhi standar gizi. Pada dasarnya, kantin sekolah dapat berfungsi sebagai laboratorium gizi bagi siswa, tempat anak-anak belajar mengenal dan memilih makanan sehat melalui cara yang menyenangkan.
Selain membangun fisik yang kuat, olahraga membentuk karakter disiplin, sportivitas, dan kerja sama. Menurut pandangan Sir Ken Robinson (2015) dalam Creative Schools, sekolah idealnya dirancang sebagai ruang bagi anak untuk menjelajahi ritme hidupnya lewat aktivitas fisik dan permainan sebab kreativitas diyakini tidak akan berkembang dari keadaan tidak bergerak.
Nilai-nilai itulah yang juga terkandung dalam profil pelajar Pancasila: beriman, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, kreatif, dan berkebinekaan global. Olahraga menjadi wadah konkret untuk menanamkan karakter tersebut secara alami.
MENUJU BANGSA TANGGUH
Mengabaikan gaya hidup pasif bukanlah kesalahan personal semata, melainkan juga kesalahan sistemis yang berbiaya mahal bagi masa depan bangsa. Beban ekonomi akibat penyakit kronis terkait dengan sedentari (seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung) mencapai miliaran dolar global setiap tahunnya. Bank Dunia memperingatkan bahwa beban penyakit tidak menular dapat menghambat produktivitas dan pertumbuhan ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.
Di tingkat nasional, investasi pada integrasi itu ialah langkah preventif yang cerdas untuk mengurangi tekanan pada sistem kesehatan di masa depan dan membangun modal manusia yang unggul. Keberhasilan program seperti rajio taiso di Jepang dalam membangun disiplin nasional dan kampanye Active Schools di Australia untuk kesehatan mental pelajar menjadi bukti nyata efektivitas investasi semacam itu.
Pendidikan masa depan harus meninggalkan dikotomi kuno antara otak dan tubuh. Visi pendidikan holistis, yang mengasah pikiran sekaligus membangun ketahanan fisik dan mental, hanya dapat terwujud jika olahraga menjadi napas dalam setiap ritme belajar. Untuk itu, diperlukan aksi kolektif. Bagi sekolah dan guru, mulai dengan inovasi kecil: satu jenis 'jeda aktif', satu program kantin sehat, atau satu unit kegiatan olahraga yang inklusif.
Bagi orangtua, dukunglah dengan menyediakan bekal bergizi dan memberikan ruang bagi anak untuk bermain aktif di rumah. Bagi pemerintah dan pemangku kebijakan, terbitkan panduan operasional sekolah aktif dan sehat, alokasikan dana pelatihan untuk guru, dan berikan apresiasi bagi lembaga pendidikan yang menjadi pionir.
Dengan menjadikan sekolah sebagai taman yang bergerak, didukung gizi yang baik dan pembentukan karakter yang kukuh, kita sedang menempa generasi penerus yang tidak hanya siap bersaing di panggung global dengan pikiran yang cepat dan tindakan yang tepat, tetapi juga tetap berakar pada jati diri bangsa sebagai insan yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Membangun bangsa tangguh berawal dari sekolah yang sehat, dengan ruang kelas penuh dengan ide segar dan lapangan dipenuhi semangat pantang menyerah, menyiapkan anak Indonesia untuk menghadapi ujian kehidupan yang sesungguhnya.

11 hours ago
5





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438274/original/083064300_1765278633-WhatsApp_Image_2025-12-09_at_17.44.57.jpeg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424608/original/098441100_1764148748-ananda_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5084452/original/033272000_1736326442-image.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5445907/original/092174600_1765867826-BASKET_ADHIB.jpg)







:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5424782/original/075037300_1764155424-20251126_092808.jpg)

