(MI/Duta)
BAGAIMANA rasanya memahami sebuah bahasa, tetapi enggan menggunakannya? Di banyak ruang kelas, terutama di daerah, bahasa Inggris kerap dipelajari sebagai mata pelajaran yang harus dikuasai, tetapi sekaligus ditakuti. Siswa memahami kosakata dan struktur kalimat, tetapi memilih diam karena takut melakukan kesalahan. Dalam situasi seperti itu, bahasa berisiko kehilangan maknanya, ia tidak lagi menjadi alat komunikasi, tetapi sekadar bahan ujian.
Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang kian cepat, kemampuan berbahasa Inggris menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda. Bahasa Inggris tidak lagi dipahami semata sebagai mata pelajaran di sekolah, tetapi sebagai keterampilan hidup yang membantu siswa berkomunikasi, mengakses pengetahuan, dan membuka peluang pada masa depan.
Karena itu, pembelajaran bahasa Inggris tidak cukup jika hanya berfokus pada hafalan kosakata dan tata bahasa. Kelas bahasa Inggris perlu dihadirkan sebagai ruang belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, bekerja sama, berkreasi, serta menggunakan bahasa secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
INGGRIS DI PINGGIRAN
Pembelajaran bahasa Inggris di daerah memiliki tantangan yang khas. Minimnya paparan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari membuat kemampuan awal siswa sangat beragam. Di sisi lain, rasa canggung dan takut salah kerap menurunkan kepercayaan diri siswa saat berbicara meskipun pemahaman materi sebenarnya telah terbentuk. Akibatnya, kelas menjadi pasif dan interaksi bahasa tidak berkembang secara optimal.
Dalam konteks itulah, pendekatan pembelajaran yang menyenangkan menjadi penting. Di tengah pembelajaran bahasa Inggris yang kerap dipersepsikan serius dan kaku, pendekatan fun with English menghadirkan suasana belajar yang lebih santai dan menghibur. Pendekatan itu mendorong keterlibatan aktif siswa serta memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi secara lebih bebas (Ermawati & Suherman, 2023). Suasana belajar yang aman dan menyenangkan menjadi fondasi awal agar siswa berani mencoba dan belajar dari kesalahan.
BELAJAR MELALUI INGGRIS
SMP Sukma Bangsa Bireuen menerapkan pembelajaran bahasa Inggris yang inovatif dan berorientasi pada deep learning agar siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga merasakan relevansinya dengan kehidupan nyata. Dari sudut pandang guru, pembelajaran bahasa tidak cukup berfokus pada tata bahasa dan kosakata semata, tetapi juga harus memberikan ruang bagi siswa untuk merasa nyaman, berani, dan mampu menggunakan bahasa sebagai alat menyampaikan gagasan.
Pembelajaran dirancang secara partisipatif melalui beberapa pendekatan. Di dalam kelas, guru menghadirkan suasana belajar yang hidup melalui aktivitas interaktif dan proyek kontekstual berbasis pengalaman siswa. Pendekatan itu sejalan dengan pandangan Arief (2015) yang menekankan pembelajaran efektif berangkat dari kebutuhan siswa.
Pembelajaran bahasa Inggris dikembangkan melalui aktivitas kontekstual dan lintas mata pelajaran. Siswa mempraktikkan ungkapan sehari-hari melalui proyek berbasis situasi nyata, termasuk kolaborasi dengan prakarya bertema lingkungan. Pendekatan itu membantu siswa memahami bahasa sebagai alat ekspresi, sekaligus menumbuhkan kreativitas dan kepedulian sosial.
Pengalaman belajar kontekstual diperluas melalui kegiatan school visit ke Paya Nie, kawasan lahan basah di Gampong Blangme, Kutablang, Bireuen, Aceh. Di lokasi itu, siswa mengamati ekosistem lahan basah dan mengemas hasil pengamatan mereka dalam bentuk video edukasi berbahasa Inggris. Dengan cara itu, keterampilan berbahasa tumbuh seiring dengan kesadaran ekologis dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Selain pembelajaran di kelas, sekolah menggiatkan program English Day sebagai bentuk pembiasaan berbahasa di lingkungan sekolah dan kompetisi rutin, seperti spelling bee, storytelling, clash of English, dan guessing games. Melalui program itu, siswa dan guru menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi sederhana, seperti menyapa, bertanya, dan memberikan instruksi. Meski tampak sederhana, kegiatan itu memberikan dampak signifikan dalam membangun kepercayaan diri siswa.
Bagi siswa yang memerlukan penguatan dasar, sekolah menyediakan program English Starter yang dilaksanakan seminggu sekali sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Program itu membantu siswa membangun fondasi kemampuan berbahasa sebelum melangkah ke tingkat yang lebih tinggi.
Pendekatan pembelajaran yang demikian tidak berhenti pada proses, tetapi juga tecermin dalam perubahan sikap dan pengalaman belajar siswa.
KEBERANIAN BERBAHASA SISWA
Pembelajaran yang variatif dan menyenangkan memberikan dampak positif bagi perkembangan siswa. Mereka menjadi lebih berani berbicara, lebih aktif berinteraksi, dan lebih terbuka terhadap kegiatan berbasis proyek dan kolaborasi. Siswa yang sebelumnya pasif mulai berani mencoba menggunakan bahasa Inggris meskipun dengan kosakata dan struktur yang sederhana.
Lingkungan belajar yang suportif membantu menurunkan kecemasan berbahasa dan meningkatkan motivasi belajar. Bahasa Inggris tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai alat untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami bahasa Inggris, tetapi juga mampu menggunakannya dalam situasi nyata, baik di dalam maupun di luar kelas.
MERAWAT PROSES BELAJAR
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Inggris secara berkelanjutan, beberapa upaya strategis perlu terus diperkuat. Penguatan Forum Guru Belajar Bersama (FGBB) penting agar inovasi pembelajaran dapat dibagikan, direfleksikan, dan disesuaikan dengan kebutuhan kelas. Pemanfaatan media kreatif dan teknologi pembelajaran juga perlu dioptimalkan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bervariasi.
Peningkatan paparan bahasa melalui English Day, kompetisi, serta proyek lintas mata pelajaran terbukti efektif dalam menciptakan penggunaan bahasa Inggris yang lebih natural. Di sisi lain, dukungan fasilitas belajar, penguatan budaya literasi, serta kolaborasi dengan orangtua merupakan elemen penting dalam membangun ekosistem pembelajaran bahasa yang berkelanjutan.
Pembelajaran bahasa Inggris yang bermakna di SMP Sukma Bangsa Bireuen merupakan langkah penting dalam mempersiapkan generasi yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan global. Melalui inovasi pembelajaran, program pendukung, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, sekolah terus menunjukkan peran mereka sebagai model pendidikan progresif di daerah.
Pada akhirnya, bahasa Inggris bukanlah tujuan akhir pembelajaran, melainkan medium untuk membantu siswa tumbuh sebagai pembelajar yang mandiri, kreatif, dan berdaya. Jika bahasa bukan sekadar tata dan kosakata, melainkan juga pengalaman hidup, sejauh mana pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dapat membuka pemahaman lintas budaya sekaligus menumbuhkan kesadaran akan identitas dan nilai lokal siswa? Di situlah bahasa berperan dalam membentuk manusia yang utuh.

2 hours ago
1
























:strip_icc()/kly-media-production/medias/5445907/original/092174600_1765867826-BASKET_ADHIB.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4598231/original/081128000_1696406073-Genshin_Impact_di_Xiaomi_13T.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457221/original/003005000_1766991413-Mobile_Legends.jpg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/2870049/original/061175000_1564651087-free-fire-02.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5380287/original/026074400_1760421304-iPhone_Air_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4459191/original/069164100_1686277517-Komentar_Mark_Zuckerberg_Soal_Apple_Vision_Pro_01.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455850/original/029887100_1766737429-chipset.jpg)