Empati di Balik Perundungan Peserta PPDS

3 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Empati di Balik Perundungan Peserta PPDS (MI/Duta)

PERUNDUNGAN atau bullying sesungguhnya sudah dinyatakan dilarang dan termasuk salah satu dosa besar dalam penyelenggaraan pendidikan. Namun, di sejumlah fakultas kedokteran dan rumah sakit, perundungan menjadi noda hitam yang terus terjadi hingga kini.

Salah satu kasus perundungan yang terbaru terjadi dan dialami seorang peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Universitas Sriwijaya. Meski berkali-kali telah dilakukan perbaikan dan langkah-langkah pembenahan, hingga kini hasilnya masih jauh dari memadai.

PERUNDUNGAN

Kasus perundungan di kalangan PPDS yang terjadi di Universitas Sriwijaya bukanlah kasus yang pertama. Sebelum peristiwa di Universitas Sriwijaya tidak sekali-dua kali terjadi perundungan yang menyebabkan korban stres, bahkan ada pula yang sampai mengundurkan diri, memilih tidak melanjutkan program pendidikan spesialisnya.

Menurut data Kemenkes, sejauh ini, aduan dari masyarakat terkait dengan kekerasan di kalangan PPDS mencapai 2.668 aduan dan 632 di antaranya terbukti merupakan bentuk kekerasan dengan perincian 370 kasus di rumah sakit Kemenkes, 157 di rumah sakit lainnya, 72 di fakultas kedokteran universitas, serta 33 kasus lainnya.

Tindakan verbal abuse ialah makanan sehari-hari yang kerap dialami mahasiswa PPDS. Mereka sering kali harus menahan diri karena dimaki atau mendapatkan kata-kata kasar dari senior mereka. Tak hanya itu, korban acap kali menjadi korban pemerasan. Mereka harus mengeluarkan sejumlah uang untuk keperluan yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan itu sendiri.

Kita para pendidik sepakat melaksanakan zero bullying, yaitu gerakan untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari perundungan atau bullying. Tujuan utama ialah mencegah dan mengatasi kasus perundungan, serta meningkatkan kesadaran dan empati di kalangan PPDS dan senior/supervisor.

Beberapa strategi yang digunakan dalam zero bullying antara lain mengintegrasikan materi anti-bullying ke dalam kurikulum, pembentukan dan mengaktifkan tim anti-Bullying untuk memantau dan menangani kasus perundungan, serta menyediakan saluran pelaporan yang aman dan anonim bagi korban perundungan.

MEMBANGUN MENTAL TANGGUH

Kasus tindak perundungan yang terjadi di kalangan PPDS di sejumlah fakultas kedokteran sungguh sangat memprihatinkan. Perundungan itu bukan sekadar insiden kasuistis yang hanya terjadi di satu-dua fakultas kedokteran, tetapi merupakan puncak gunung es dari budaya 'senioritas' yang salah, yang telah lama mengakar dan dinormalisasi dalam lingkungan rumah sakit pendidikan.

Salah satu alasan klasik yang kerap digunakan untuk membenarkan perundungan di lingkungan mahasiswa peserta didik PPDS ialah 'membangun mental agar tangguh'. Namun, ada perbedaan tipis tetapi krusial antara pembentukan disiplin dan perundungan. Ketika disiplin bergeser menjadi tindakan fisik, pemerasan uang, pemberian tugas pribadi yang tidak relevan dengan kompetensi medis, hingga pelecehan verbal, itu sesungguhnya ialah perundungan.

Justifikasi perundungan dengan alasan apa pun harus ditolak. Membangun mental yang tangguh tentu tidak tepat jika dilakukan melalui inisiasi yang kelewat batas. Tidak mungkin mental yang tangguh dibangun melalui tindakan yang kasar, menyakiti hati, penekanan, dan mengandalkan relasi kuasa yang timpang antara junior dan senior.

Mental yang tangguh sesungguhnya akan terbentuk dengan baik dari proses pembimbingan yang konstruktif, bukan dari ketakutan. Rumah sakit harus menciptakan budaya kerja yang inklusif, profesional, dan saling menghormati.

Berdasarkan pengalaman, kita tahu bahwa perundungan yang dialami calon dokter spesialis rawan terjadi karena kurangnya pengawasan dari dosen pengajar atau pihak rumah sakit tempat calon dokter spesialis itu praktik. Dalam kenyataan, sering terjadi pembimbingan bagi peserta didik PPDS diserahkan kepada residen senior karena dosen pengajar tidak memiliki waktu yang cukup dan lebih memilih melakukan hal lain, atau karena disibukkan dengan kegiatan praktiknya pribadi.

Dalam situasi seperti itu, akhirnya yang namanya residen senior menjadi pihak yang berkuasa, bahkan seolah mereka menjadi pihak yang memiliki kontrol absolut kepada para junior mereka yang tengah belajar.

MEMBANGUN EMPATI

Menghentikan perundungan di kalangan PPDS, selain melalui pendekatan persuasif, dalam beberapa kasus memerlukan tindakan tegas dan terstruktur dari tingkat kementerian hingga rumah sakit pendidikan. Namun, untuk menghentikan perundungan agar tidak lagi terjadi di lingkungan fakultas kedoktean dan rumah sakit, beberapa hal perlu menjadi fokus perhatian.

Pertama, menempatkan kepentingan korban dan calon dokter spesialis sebagai prioritas utama. Seyogianya setiap terjadi perundungan, Kemenkes tidak dengan serta-merta menutup penyelenggaraan PPDS karena di sana ada banyak pihak dan kepentingan yang terlibat.

Alih-alih menutup penyelenggaraan PPDS, akan lebih bijak jika dilakukan evaluasi yang menyeluruh dan kemudian memberikan sanksi yang setimpal kepada pihak-pihak yang terlibat dalam perundungan.

Dengan menutup penyelenggaraan PPDS, tentu yang dirugikan pertama kali ialah peserta didik PPDS itu sendiri, juga masyarakat yang tertunda untuk mendapatkan layanan spesialisasi karena kelulusan mereka tertunda, khususnya di daerah yang kekurangan dokter spesialis.

Kedua, yang tak kalah penting ialah bagaimana membangun pemahaman yang tepat terhadap peserta didik PPDS itu sendiri. Bagi kalangan residen senior, bukan hanya ancaman pencabutan surat tanda registrasi (STR) atau izin praktik, melainkan juga yang tak kalah penting ialah bagaimana mengajarkan mereka membangun empati kepada peserta PPDS. Perlu dipahami bahwa peserta didik PPDS bukanlah sapi perahan dan tidak semua peserta didik PPDS ialah orang-orang yang memilki banyak uang.

Di Surabaya, belum lama ini diberitakan ada seorang dokter bernama dr Rosa, dokter umum dari Rumah Sakit Doris Sylvanus Palangka Raya yang sedang melanjutkan studi dokter spesialis penyakit dalam di FK Universitas Airlangga/RSUD Dr Soetomo Surabaya. Ia mengisi waktu luang dengan nyambi menjadi driver taksi online.

Dr Rosa itu viral karena ketika menjalankan pekerjaan sebagai sopir taksi, ia menolong penumpang yang sedang melahirkan di taksinya. Kasus dr Rosa itu paling tidak menyadarkan kita bahwa calon dokter spesialis sebetulnya juga tengah bergulat dengan berbagai keterbatasan dan tidak semua peserta didik PPDS mampu secara ekonomi, tidak semua peserta didik PPDS mempunyai cukup waktu karena ada sebagian mereka mencari penghasilan tambahan untuk kebutuhan hidup mereka.

Pandangan pada residen senior yang memperlakukan junior mereka semena-mena harus diubah. Jika kita ingin pelayanan kesehatan yang berkualitas, kita harus berani melindungi jiwa-jiwa para calon dokter spesialis yang sedang menimba ilmu layaknya manusia yang terhormat.

Kemendikti-Saintek menyikapi perundungan di kalangan peserta didik PPDS dengan sangat serius. Mereka telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah dan menangani kasus perundungan, termasuk membentuk satgas bersama dengan Kemenkes untuk mencegah dan menangani perundungan di kalangan peserta didik PPDS.

Semoga kasus perundungan di Universitas Sriwijaya menjadi kasus yang terakhir dan tidak terulang di sentra-sentra pendidikan lainnya.

Read Entire Article