Blibli resmi meluncurkan BlibliStyle Outlet pada Jumat (23/1), yang berlokasi di lantai 3 Gedung Ranch Market Pesanggrahan, Jakarta Barat. Bedanya dengan Blibli Store dan Hello Store yang menyajikan beragam merek smartphone hingga iPhone resmi, BlibliStyle Outlet menyajikan produk sport dan fashion dari brand ternama.
BlibliStyle Outlet diklaim sebagai salah satu solusi psikologis decision fatigue, atau kelelahan dalam mengambil keputusan. Apa hubungannya antara toko dengan isu mental itu?
Hampir sebagian dari kita mungkin pernah merasa lelah saat belanja online Niat hati ingin membeli sepatu lari atau baju kasual, tapi malah berakhir scrolling berjam-jam tanpa ada yang di-check out. Alhasil, keranjang belanja e-commerce kamu menumpuk hingga angka keramat "99+".
Fenomena itu dikenal sebagai decision fatigue. Otak kita kebanjiran terlalu banyak opsi sehingga lumpuh dan batal membeli.
Untuk menjawab fenomena psikologis ini, Blibli menghadirkan BlibliStyle Outlet yang menawarkan konsep berbelanja bebas pusing.
Alih-alih memindahkan semua barang dari gudang ke toko, Blibli menggunakan sains data (data science) untuk menentukan barang apa saja yang dipajang.
Saat ditemui kumparan di lokasi, Krisantia Nugraha, Group Head Groceries and Lifestyle Blibli, membenarkan konsep toko ini dirancang untuk mempermudah konsumen yang kerap bingung memilih.
Ketika ditanya apakah kurasi ini diniatkan untuk mengurangi dampak decision fatigue akibat keranjang online yang penuh, Krisantia memberikan jawaban tegas.
"Pastinya salah satunya adalah itu," ujar Krisantia.
Ia menjelaskan karena area toko tidak sebesar gudang, mereka harus pintar-pintar memilih produk. Peran data pun bermain sehingga Blibli menaruh barang berdasarkan perilaku belanja online warga sekitar.
"Kita juga lihat dari online, penjualan di area Jakarta Barat ini seperti apa. Nah, dari situ kita cari, ya kita coba display di sini sih," jelas Krisantia secara verbatim.
Pendekatan lain yang dilakukan Blibli juga menyentuh aspek demografi lingkungan. Lokasi toko yang berada di atas supermarket dan dekat area pemukiman membuat kurasi produk menjadi sangat spesifik, menggabungkan kebutuhan Gen Z hingga Baby Boomers.
"Pastinya kita pertama mulai dulu dari pangsa pasarnya. Kita lihat kan di area sini tuh mix ya, tapi rata-rata family. Ada juga Gen Z nih yang suka nge-gym di sebelah," ungkap Krisantia sambil menunjuk ke arah gym yang persis ada di sisi kanan depan outlet.
Secara demografis, Krisantia juga menyoroti perilaku konsumen di gedung tersebut.

3 days ago
3





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438274/original/083064300_1765278633-WhatsApp_Image_2025-12-09_at_17.44.57.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5084452/original/033272000_1736326442-image.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424608/original/098441100_1764148748-ananda_.jpg)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5445907/original/092174600_1765867826-BASKET_ADHIB.jpg)





:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5424782/original/075037300_1764155424-20251126_092808.jpg)



