Belajar dari Erupsi Krakatau 1883: Memaknai Perilaku Satwa sebagai Alarm Bencana

2 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Konsisi Anak Gunung Krakatau. Foto: Dok. Istimewa

Bencana katastropik yang melanda Sumatra pada penghujung tahun 2025 dan awal tahun 2026 lalu menyisakan telaah dan perdebatan seputar krisis ekologi berskala besar. Selain menimbulkan korban hingga mencapai lebih dari 1.200 jiwa, banjir bandang tersebut menewaskan seekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis), yang ditemukan di bawah timbunan lumpur dan kayu di Pidie Jaya, Aceh.

Analisis kematian tersebut mengarah pada tingginya kerusakan ekologi yang berbanding lurus dengan besarnya skala bencana. Meskipun demikian, dilihat dari perspektif animal behaviour, kematian gajah tersebut menunjukkan sebuah ketidaklaziman.

Membaca tulisan Nopri Ismi berjudul ’Catatan Akhir Tahun: Melindungi Satwa Liar, Menjaga Manusia dari Bencana’ - yang dilansir pada laman Mongabay (26 Desember 2025), gajah termasuk satwa yang memiliki kecerdasan emosional untuk bertahan hidup, serta mempunyai sensitivitas dalam mendeteksi bencana.

Ia menambahkan bahwa berkat kemampuan tersebut, tidak ada gajah yang menjadi korban pada bencana Tsunami yang menerjang Aceh, dan beberapa kawasan di Samudra Hindia pada 2004 lalu. Kondisi kausalitas antara satwa dan bencana alam kemudian memunculkan pertanyaan penting: Dapatkan perilaku satwa secara praktis dijadikan sebagai pendeteksi dini bencana alam?

Sejatinya, kesaksian tentang anomali tingkah laku satwa umumnya hadir pada setiap kejadian bencana. Namun, narasinya selalu menjadi penguat bagi tanda-tanda bencana, bukan sebagai alarm dan prosedur yang preventif. Padahal, wilayah Indonesia secara geografis berada pada zona rawan bencana, khususnya bencana geologis. Selain itu, Indonesia dihuni berbagai spesies satwa, yang prilakunya sangat mungkin berpotensi menjadi sinyal dalam mendeteksi peningkatan aktivitas seismik maupun vulkanik.

Berbagai tulisan tentang posibilitas tersebut sejatinya banyak hadir di berbagai lini massa, yang umumnya diulas dalam ranah ilmu terapan. Namun demikian, kajian sejarah juga memungkinkan dalam menghadirkan data-data menyoal anomali perilaku satwa pada bencana di masa lalu. Setidaknya, peristiwa erupsi Krakatau 1883 memberikan narasi bahwa anomali satwa sudah difikirkan - meskipun belum diperhitungkan – sebagai gejala awal kondisi perut bumi yang tidak baik-baik saja.

Satwa-Satwa yang Berperilaku Aneh

Letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883 tercatat sebagai salah satu bencana katastropik terbesar dalam sejarah modern. Bencana tersebut memuculkan angka sekitar 4.000 korban jiwa akibat gelombang Tsunami dan jutaan kubik abu vulkanik yang juga merusak berbagai ekosistem. Selain tanda-tanda geologi yang muncul prabencana, beberapa kesaksian mengutarakan berbagai anomali tingkah laku satwa sebelum, saat, dan setelah erupsi.

Ilustrasi letusan Krakatau dan fenomena susulannya, 1888.Disunting oleh George James Symonds (1838–1900) dan diterbitkan oleh Royal Society (Great Britain), Krakatoa Committee. Koleksi Houghton Library, Harvard University (Public Domain).

Film Krakatoa: The Last Days yang dirilis pada 2006, menghadirkan visualisasi gelaja tersebut, disertai kebimbingan dari orang-orang Belanda, tidak terkecuali seorang geolog Belanda bernama Rogier Verbeek. Sebagai seorang ilmuwan, Verbeek menerima laporan berupa keganjilan-keganjilan satwa, seperti yang diungkapkan oleh seorang perempuan Belanda bernama Johanna Beyenrick. Ia yang mengkhawatirkan kuda miliknya yang mengamuk, ayam peliharaannya yang tidak bertelur, serta burung-burung yang tidak terlihat di pohon.

Johanna merupakan istri dari seorang pemilik perkebunan, William Beyerick, yang tinggal di sekitar Pantai Anyer – jarak yang cukup jelas untuk melihat geliat Krakatau yang berada di lepas pantai. Pascaledakan 27 Agustus 1883, kesaksian perihal anomali satwa juga diutarakan Rogier Verbeek sendiri dalam catatan kesaksiannya berjudul Krakatau (1885). Ia menuliskan soal satwa-satwa peliharaannya yang berprilaku gelisah, enggan keluar rumah, dan berusaha untuk sedekat mungkin dengan cahaya.

Anomali prilaku satwa di sekitar letusan Krakatau juga diulas secara khusus oleh Simon Winchester dalam buku Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (2006). Ia menarasikan tentang keganjilan prilaku seekor gajah kecil milik Wilson’s Great World Circus, yang hampir setiap malam (sejak awal Agustus 1883) menggelar pertunjukan di Batavia pada saat Krakatau mulai bergejolak.

Kisah yang terungkap kemudian cukup unik perihal upaya seorang pawang bernama Miss Nanette Lochart dalam menenangkan dan mengamankan gajah kecil yang ’ngamuk’ saat pertunjukan berlangsung. Menariknya, ia berinisiatif menyembunyikan dan membaringkan gajah tersebut di salah satu kamar di Hotel des Indes, Batavia. Gajah itu kemudian berbuat kegaduhan dengan mengobrak-abrik kamar hotel, disertai kepanikan penghuni hotel lain yang mengira hotel akan roboh.

Kegelisahan satwa-satwa tersebut nyatanya diterjemahkan berbeda. Segelintir orang menganggapnya sebagai respons alamiah terhadap gejala bencana, tetapi banyak pula yang mengabaikannya, termasuk sikap Rogier Verbeek yang kemudian membuatnya merasa bertanggung jawab atas kekeliruan pembacaan situasi.

Pertarungan antara Takhayul dan Sains

Kondisi prabencana menghadirkan perdebatan yang menarik soal ’ilmiah’ dan ’takhayul’, yang mengiringi berbagai gejolak yang ditunjukkan Krakatau. Sebagian masyarakat lokal menafsirkan gemuruh Krakatau sebagai manifestasi kemarahan entitas yang diyakini sebagai penghuni gunung tersebut. Dalam konteks lainnya, Film Krakatoa menyerta...

Read Entire Article