
WHATSAPP mengungkap pihaknya berhasil menangkal upaya peretasan yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab kepada 200 pengguna mereka yang menjalankan aplikasi. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu menyebut kalau itu merupakan metode peretasan tingkat tinggi. Raksasa aplikasi perpesanan milik Meta itu mengatakan, mereka telah memperbaiki kerentanan, yang secara resmi dikenal sebagai CVE-2025-55177.
Juru bicara Meta, Margarita Franklin, mengonfirmasi bahwa perusahaan telah mendeteksi dan menambal celah keamanan tersebut "beberapa minggu yang lalu" dan telah mengirimkan "kurang dari 200" notifikasi kepada pengguna WhatsApp yang terdampak.
Di sisi lain, Kepala Laboratorium Keamanan Amnesty International, Donncha Ó Cearbhaill, menggambarkan serangan tersebut dalam sebuah postingan di X (dulu Twitter). Dia menyatakan bahwa itu merupakan kampanye spyware canggih, yang menargetkan pengguna selama 90 hari terakhir, atau sejak akhir Mei.
Ó Cearbhaill menggambarkan, kedua bug tersebut sebagai serangan 'tanpa klik' (metode Phising), yang berarti serangan ini tidak memerlukan interaksi apa pun dari korban, seperti mengeklik tautan, untuk membahayakan perangkat mereka. Kedua bug yang dirangkai bersama memungkinkan penyerang untuk mengirimkan eksploitasi berbahaya melalui WhatsApp yang mampu mencuri data dari perangkat Apple pengguna.
Tidak diketahui jelas siapa atau vendor spyware mana yang berada di balik serangan tersebut. Namun dalam pesan yang dikirmkan WhatsApp kepada penggunanya yang nyaris terkena serangan, dijelaskan bahwa serangan siber itu bisa mencuri data-data yang ada di dalam perangkat maupun riwayat pesan pada aplikasi WhatsApp.
Adapun Ini bukan pertama kalinya pengguna WhatsApp menjadi sasaran spyware, jenis malware yang mampu membobol perangkat yang sudah ditambal sepenuhnya dengan kerentanan yang tidak diketahui vendor, yang dikenal sebagai kelemahan zero-day.
Pada bulan Mei, pengadilan AS memerintahkan produsen spyware NSO Group untuk membayar ganti rugi sebesar $167 juta kepada WhatsApp atas upaya peretasan tahun 2019 yang membobol perangkat lebih dari 1.400 pengguna WhatsApp, dengan eksploitasi yang mampu menanamkan spyware Pegasus milik NSO. (M-2)